Cinta Tak Mampir Di Singapura

Posted in Cerpen on January 7, 2009 by arlenaraguci

Cerpen: ARLEN ARA GUCI
Langit merah tembaga saat azan berkumandang di udara Kajang. Lampu-lampu penerang meski remang cukup benderang bagi sepasang mata jalang. Hal biasa jadi asing bagi pendatang di tanah orang. Jasman masih sanksi, benarkah dari sesudut kota kecil Kajang, ia leluasa menuju Singapura secara lempang.
Jasman terus menapak di atas trotoar Kajang yang lembab sisa rinai senja. Lebuh raya merayap lebih dari biasa. Sempena hari raya China, cuti umum dua hari plus dua hari di ujung minggu, sedikit merubah wajah Malaysia. Mobil pribadi berkelindan tanpa kira masa. Rata-rata bertolak dari ibukota menuju kampung halaman.
Meski Jasman tiada kena mengena dengan perayaan itu, sebagai penghuni Tanah Semenanjung, mau tak mau Jasman kena tempiasnya. Libur empat hari adalah kesempatan langka. Karena kesibukannya menyelesaikan study sambil bekerja di negara orang.
Walau jauh hari hasrat Jasman bertandang ke Singapura masih separuh hati. Namun bila bermain di mata uniknya wajah negeri koloni British, dimana tiga tahun ini hanya dinikmati di kaca tivi, maka Jasman ingin menapak di sana. Mungkin bukan sekadar cuci mata, melepas penat belaka. Jasman juga ingin menambah isi minda. Dan, alangkah beruntung bila saja ia dapati juga bidal tetua lama, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau.
Loket tiket meski antri tapi rapi. Hati Jasman walau tak menari mungkin berseri. Jikalah Jasman sebenar menapakkan kaki di Singapura, menggenapkan lima negara tetangga dijelajahnya.
Kereta api hendak tiba gemuruh di dada kian bertabuh. Ditambah informasi dari petugas stasiun kalau kereta api express Senandung Malam hanya akan berhenti selama dua menit saja.
Gemeretak suara roda kereta beradu rel berlapis baja kian nyata. Jasman bersiaga di garis peron. Begitu selonsongan gerbong itu menepi di depannya, kilat Jasman setengah melompat dan meletakkan pantat di kursi tepi jendela. Hingga matanya bebas menembus hitam malam. Langit memekat. Hanya kilau lampu dari kejauhan menebas gedung-gedung dan ladang-ladang sawit.
“Ke Singapura-kan!?” sapa suara wanita bertudung di sebelahnya.
“Ya, Singapura. Kamu juga!?” balas Jasman.
“Sama!”
Sesaat. Hanya sesaat. Hening mengeping  keduanya. Patutkah disebut perkenalan dengan seseorang tak dikenal sama sekali suatu kebetulan. Jasman menarik nafas panjang. Jemari si wanita merapikan ulang ujung tudungnya.
“Jasman!” suara anak muda itu tanpa diminta.
“Laila!” balas si wanita datar.
Selanjutnya hala dan tujuan masing-masing mengalir begitu saja tanpa diminta. Sekadar bertukar nomor handpone tentunya bukan hal tabu untuk hubungan ke depan.
“Mau jalan kemana aja di Singapura?”
“Pulau Sentosa denger-denger bagus!”
Seulas senyum tanpa dinyana dikirim Jasman buat Laila. Gadis bertudung itu mungkin malu semalu-malunya. Buat pertama kali seorang pemuda mencoba menawan hatinya.
Pacu Senandung Malam itu seperti bayu selepas Johor Baru. Jasman dan Laila menepis rasa yang entah mau disebut apa. Mungkin ketika kaki Laila menapak di Taman Burung Jurong, Chinatown, Little India, Jalan Arab semoga dirinya tak lagi berdekatan dengan Jasman.
Kereta api menepi di stasiun Tanjong Pagar, Jasman berdebar-debar. Ia tak ingin kehilangan kesempatan. Kesempatan mencurahkan sebenar rasa bergelora. Salahkah rasa suka disebut cinta?
Pintu dibuka, penumpang berkemas ke distinasi masing-masing. Laila tau betul tabiat laki-laki bila ada maunya. Penuh perhatian dan lebih ramah dari biasa. Bukan sekali dua kali ia tergamak begini. Dan, Laila ingin menepis anggapan diam perempuan kerap diartikan iya oleh laki-laki.
“Maaf Jasman, perkenalan kita berhenti di sini!”
“Kenapa?”
“Semua ada aturannya!”
“Sekadar kawan!?”
“Kawan?”
“Iya!”
“Jasman, mana ada sejarahnya lelaki perempuan seusia kita bisa disebut kawan, kalau nggak ada apa-apanya!”
“Maksudnya? Ada yang nggak bener nih!?”
“Jasman, aku ke Singapura bukan untuk mengeruhkan hati!”
Haruskah jemari manis dipamerkan Laila. Dimana cincin tunangannya disemat sebagai azimat. Akan mencipta Jasman makin  tak nyaman, kalau ia diberitahu, Laila kan segera menjumpai tunangannya di universiti terkemuka di sana.
Kuncup hati Jasman layu sebelum jadi. Cuti panjangnya ke Singapura dirasa tak lebih seperti habuk di udara. Salahkah Jasman jika pada sepuluh bertunang sebelumnya muaranya patah di tengah. Selalunya jari ditunjuk ke hidungnya, konon Jasman terlalu milih-milih, nggak serius, membiarkan wanita menunggunya. Belum lagi mulut-mulut usil, laki-laki tiga puluh tahun masih membujang dimana enaknya?
Ngiang pesan Laila adakah menjunam dibenaknya, “jangan biarkan wanita menunggu terlalu lama pabila sudah dipinang laki-laki! Itu hal yang tak dimaui wanita!”
Pernah lima bulan, tujuh bulan, bahkan berbilang dua belas bulan lepas meminang, Jasman seakan hilang tak tentu rimba. Bagaimana nasib anak gadis orang. Di tangan Jasman, soal meminang tak ubahnya segampang menggoreng pisang.
Badan Jasman terguncang pulang ke Kajang. Baru kini ia mencoba percaya sepenuhnya, kiranya jodoh masih rahasia Sang Pencipta. Begitu pun cinta, tak datang tiba-tiba. Apatah sekadar mampir begitu saja. (AaG)
@@@
Singapura, 2008
Dimuat di Majalah SABILI, 2008

Seusai Rinai

Posted in Uncategorized on January 7, 2009 by arlenaraguci

 

Oleh: ARLEN ARA GUCI

Sebelum rinai turun, Mustafa mohon ampun. Anak dan ayah itu kan segera dipisahkan lautan. Jauh di kaki langit, nun di balik awan. Kiranya masa ber-alif-ba-tsa di surau tua kakek terlalu klasik untuk diagungkan kini. Ulah Mustafa belum jua kembali ke pangkuan bumi pertiwi. Sedang tanah yang semula merah dan basah—di situ jenazah ayah dimakamkan—kini tlah rindang dek ilalang.

Kata mendiang ayah, apapun pekerjaan—asal halal—jika dilakukan semata Lillahi Ta’ala termasuk ibadah juga. Namun bila menjemput maut dan mencari mati, akankah ditempuh jua? Padahal kerja menanti Mustafa cukup mulia. Guru mengaji di Pattani. Wilayah bekas kerajaan Islam Melayu di Selatan Thailand.

Sayang pada perkembangannya, di tanah itu darah mudah tumpah. Nyawa dicerabut murah. Tahu di sana kokang senapan begitu ringan dinyalakkan. Atas nama ilmu, meski bimbang Mustafa berangkat jua. Setidaknya ia berkeyakinan, toh jika timah panas itu nanti menghantar dirinya menghadap Sang Pencipta, mudah-mudahan mati syahid sebutannya.

Mustafa tak sendirian ke perantauan. Rencana semula sepuluh rekan akan jadi ustadz di Thailand Selatan. Kesepuluhnya sadar betul di sana mati tiada ubahnya bak minum obat saja. Lewat senior diberilah kesepuluh anak muda itu bekal. Bukan hanya gejolak di tiga propinsi; Pattani, Yala, dan Narathiwat. Ia-nya jua soalan mayat-mayat yang akrab dengan keseharian.

Di hari pemberangkatan, sembilan rekan Mustafa rupanya kalah sebelum berlaga. Ada yang ngoceh, nggak mau mati konyol, ada yang mengumpat, nggak ada kerjaan lain apa, ada yang menggerutu, nggak mau mati, belum kawin juga. Mustafa sendiri seperti menyerah pada takdir.

“Di bumi manapun berada, asal bertawakal, Allah akan jaga!” pesan senior disepakati Mustafa dengan anggukan berat.

Dari gugusan pulau kecil di bumi Lancang Kuning, Mustafa berlayar ke negeri Pagoda. Ia bertekad bulat mengabdikan diri kepada murid-muridnya setiba di Pattani.

Ruang belajar itu dindingnya anyaman bambu. Kursi meja dari kayu tua. Lantai tanah. Tapi mata murid-murid berbinar umpama bintang kejora. Atas pemandangan itu, Mustafa digeret ke masa lalu. Apa yang di matanya kini potret masa SD-nya dahulu. Alangkah beruntungnya aku sekolah—walau mahal— dilengkapi gedung dan alat-alat belajar agak mendingan, batin Mustafa.

Matahari berlari di Pattani. Seperti ditangkap telinga Mustafa selama ini, orang-orang tak bertanggung jawab kerap memuntahkan peluru tanpa kira masa, tanpa kira orang. Masih segar di ingatan, letupan dijelang pagi tak jauh dari tempatnya mengajar. Orang-orang berhamburan tatkala hanya mendapati beberapa loreng berkuah darah. Tak beberapa lantak, ditemukan guru tersayat-sayat. Tak seberapa depa, ditemukan tentara masih dalam pakaian kebesaran terjengkang dalam darah berkubang. Dan, Shubuh hitam yang membuat Mustafa dibalut rusuh. Baru saja imam salam, bom dikirim tepat menjangkau kubah surau. Jama’ah pun terkulai dalam buncah darah. Malamnya langit Pattani mati. Rembulan menangis. Iblis tertawa.

Mustafa menepi di serambi. Adakah semua berlaku atas nama agama? Adakah ia persoalan sekadar isi perut semata? Atau seperti yang dibaca selama ini, dimana tiada keadilan, orang-orang memeram dendam, mencabik tirani agar enyah dari muka bumi.

Kalaulah masih disaksikan mentari terbit esok pagi, berarti masih ada senda gurau dan gelak murid-muridnya. Semangat mengajarnya yang seperti pasang, naik-surut kadang membuat penat. Mungkin kedatangan guru baru itu sedikit banyak bakal mengubah suasana. Saralee—perempuan Thailand keturunan Melayu—bertudung lebar itu diperbantukan mengajar di tempat yang sama.

“Murid-murid kata, awak daripada Indonesia. Betul ke?”

“Iya!”

“Semata nak mengabdi di sini la!?”

“Nak bagi ilmu sikit dan timba pengalaman hidup!”

Saralee tak bertanya lebih jauh. Maksud tujuan mereka sama. Merambah dunia dakwah, walau di tanah berdarah-darah, pastinya memberi tantangan sendiri. Termasuk menawar prihal bagaimana kalau Mustafa diajak sekalian ikut acara syukuran di Pusat Dewan Pattani. Apa salahnya. Apalagi Mustafa sesama rekan mengajar. Acara ‘Mengenang Guru Tersayang’ selama Pattani bergolak, tentunya memberi gambaran lebih dekat, bagaimana tekad dan bara pahlawan tanpa tanda jasa tak kunjung padam.

Syukuran sederhana itu lebih banyak diisi ratap tangis daripada mengenang bapak-ibu guru tersayang. Mata Mustafa berasa panas. Inilah jolong kali gambar-gambar mayat sang pelita ditatap dalam duka dan luka. Lain lagi Saralee, pemandangan kematian ulah pengganas amat biasa baginya. Seperti menu sehari-hari adanya. Walau korbannya berganti, tapi kondisi mayat tak jauh beda. Bagian tubuh si mati pastinya disayat, dipotong, atau leher menganga lebar dengan darah kering sudah. Ia merengsek mendekat ke Mustafa.

“Jangan sedih! Perjuangan masih panjang lagi! Tiada henti!”

“Oke. Saya tak apa,” angguk Mustafa menekan telunjuk di pelupuk.

“Hei? Awak menangis ke!?”

Mustafa menyapukan telapak tangan ke muka. Ia tak mengeluarkan sebarang patah kata. Gelengan dan rundukan kepala. Itu jawabannya. Seberapa dalam poto-poto itu mencabik dada kiranya? Hingga muka Mustafa merona sendu. Sigap Saralee menempelkan sehelai kain di telapak Mustafa.

Di atas bus pulang ke kediaman, Mustafa mengusap kain segi empat biru itu ke muka. Mudah-mudahan Saralee takkan mengenangnya terlalu dalam lewat sehelai saputangan. Benar-benar sekadar menghibur rekan pengajar.

Meski Mustafa sudah lama tahu, sesungguhnyalah sebelum ibu tiada, keinginan perempuan tua itu ingin menimang cucu. Sayangnya Mustafa berkilah setelah menamatkan kuliah. Padahal kawan-kawan pengajiannya yang berstatus suami atau istri sambil studi, kiranya tak bisa lagi dihitung jari. Asyiknya, akademik pasangan segar itu malah jauh sukses dan gemilang dari yang melajang. Kini hasrat ibu menjalar pada ayah tercinta. Walau orangtua itu tak mengata langsung, tapi isyarat kerap dilayangkannya lewat pepatah Melayu;

“Belum tersurat dalam hikayat, ayam keluar mencari musang

Belum tersirat di dalam adat, bunga keluar mencari kumbang”

 

Mustafa memang meng-amin-kan penuh gelora. Tapi tiada disertai ikhtiar ke arah sana, bukan tak mungkin bujang lapuk disandangnya. Lagipula, perjuangan suci dilakoni sendiri tak ubahnya mereguk secangkir teh tak bergula. Bahkan saat kapal bertolak di dermaga, ayah berpetuah sungguh, “Nak, kalau Allah mempertemukan jodohmu di sana, ayah bahagia. Tak soal darimananya, asal shalatnya terjaga!” Mustafa membalas harapan sang ayah dengan senyuman, tapi matanya berkaca.

Kini, apalagi yang hendak dikenang ulang. Harapan ayah dan ibu bermenantu adalah cahaya sirna. Ia-nya telah mencipta pelangi petang kelabu. Lalu, berganti awan terpilu mencipta derai-derai rinai. Di Pattani sebenarnya bidadari itu sudi turun ke bumi. Bahkan Mustafa telah hampir kesitu. Diharapkan rinai segera usai. Diakah Saralee?

Pikiran Mustafa nyaris menemukan tepian, tapi ledakan dahsyat mengoyak bus yang ditumpanginya. Dan, bola api pun menari. (AaG)

@@@

Thailand, 2008

Dimuat di Majalah Al Mujtama’, Edisi I, 2008

Hujan Cemas

Posted in Personal on April 17, 2008 by arlenaraguci

By:  ARLEN ARA GUCI

 Sms datang dari adikku si bungsu, Eli.

11-04-08 01:52

‘Ws wr  wb. Alhamdulillah kmi shat ksadoy. Tiggal uda d mlaysia dma? Bilo Eli k punyo kk ipar lai da? Kcek amak imay lah ado plo punyo d kmpung.’

Bahasa Minang itu kalau ditransfer, kurang lebih jadi,‘Waallaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah kami sehat semuanya. Uda tinggal dimana di Malaysia? Kapan Eli kan punya kakak ipar, Da? Kata emak, imai sudah ada pula berkeluarga di kampung!’

Sms biasa. Salam rindu campur taragak adik kakak. Adikku Read more »

Cadar Angin

Posted in Personal on April 9, 2008 by arlenaraguci

By: ARLEN ARA GUCI

Jala emas mentari pagi belum dijulurkan saat selonsong gerbong itu menepi.  Penungguan pekerjaan paling membosankan segera mangkir. Kaki-kaki dilangkahkan ke kereta api. Segera saja tetes-tetes embun dikuak tanpa ampun. Roda hidup kembali bergulir. Serupa hari-hari kemarin, lalu ia-nya jadi basi.

Tapi sepagi ini, dari sekian penumpang sepasang mata anak muda sedang, awas! Dari stasiun ke stasiun penumpang nyata kian menyeruak. Akankah akhir pekan orang-orang selalu memilih berkeliaran. Hingga jenis transportasi apa jua dilanda sesak adanya.

Tak jua dua anak muda itu. Selanjutnya

Langkisau

Posted in Cerpen on March 18, 2008 by arlenaraguci

Cerpen: ARLEN ARA GUCI

Mati! Itulah jawaban yang selalu ku terima, setiap menanyakan pada Ibu prihal Ayahku.

“Ayah kamu telah mati!” cetus Ibu hampa.

Tidakkah ada kata halus untuk mengartikan kematian buat Ibu? Ibu tega, menyamakan Ayah dengan hewan.

“Tega…tega nian, Bu!” suaraku serak ngilu.

Wanita separuh abad itu menceracau. Muaknya menyemak, setiap kematian Ayah selalu kugugah.

Telah tiga puluh tahun aku kini, namun kehidupan tetap semu di mataku. Tak ada sedikit jua tanda duka menggelayut di wajah Ibu atas kehilangan Ayahku. Apakah memang janda cita-citanya? Tidak, Aku takkan percaya! Wanita macam apa itu? Bila di muka bumi ini ada menginginkan status memalukan itu. Hidup tanpa seorang suami, janda tua lagi. Kalau janda kembang, tentukan lain ceritanya.

“Ah… sudahlah. Masa lalu tak baik untuk kamu kenang sekarang.”

“Saya malu! Malu pada orang-orang kampung, Bu!?”

“Malu? Apa yang kamu malukan? Kamu malu dengan Ayahmu? Aku jauh lebih malu, kalau kamu tahu. Kematian itu takdir. Memang kamu hendak menolak takdir? Kamu hendak menentang kehendak Yang Di Atas, hah!?”

Selalu begitu, Aku kalah. Ibu sigap berdebat. Rumah Selanjutnya….